![]() |
| Amr bin Jamuh, Menggapai Surga dengan Kaki Pincang |
Amr bin Jamuh adalah salah seorang pemimpin Yatsrib pada masa jahiliyah. Dia ipar Abdull bin Amr bin Haram, juga kepala suku Bani Salamah yang dihormati yang dihormati karena pemurah dan memiliki peri kemanusiaan yang tinggi serta gemar menolong orang-orang yang membutuhkan
Telah menjadi kebiasaan para bangsawan jahiliyah untuk menempatkan patung di rumah mereka masing-masing. Dengan demikian, mereka bisa mengambil berkah dan dan memuja patung tersebut setiap saat. Selain itu, untuk memudahkan mereka meletakkan sesajen sembari mengadukan keluhan-keluhan mereka pada waktu yang diperlukan.
Patung di rumah Amr bin Jamuh bernama “Manat”. Patung itu terbuat dari kayu, indah dan mahal harganya. Untuk perawatannya, Amr bin Jamuh terkadang harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Hampir setiap hari patung itu dibersihkan dan diminyaki dengan wangi-wangian khusus dan mahal.
Tatkala cahaya Islam mulai bersinar di Yatsrib dari rumah ke rumah, usia Amr bin Jamuh sudah lewat 60 tahun. Tiga orang putranya: Mu’awadz, Mu’adz dan Khalad, serta seorang kawan sebaya mereka, Mu’adz bin Jabal, telah masuk Islam di tangan Mush‘ab bin Umair, sang duta Islam. Bersamaan dengan ketiga putranya, masuk Islam pula ibu mereka Hindun, istri Amr bin Jamuh. Amr tidak mengetahui kalau mereka telah masuk Islam.
Saat itu, para bangsawan dan pemuka suku di Yatsrib (Madinah) telah banyak yang masuk Islam. Hindun yang sangat mencintai dan menghormati suaminya khawatir kalau suaminya mati dalam keadaan kafir lalu masuk neraka. Sebaliknya Amr sangat mencemaskan keluarganya yang akan meninggalkan agama nenek moyang mereka. Dia takut putra-putranya terpengaruh oleh dakwah yang disebarkan oleh Mush’ab bin Umair. Karena dalam tempo singkat Mush’ab berhasil merubah agama orang banyak dan menjadikan mereka Muslim.
Oleh sebab itu, Amr selalu berkata kepada istrinya, “Hai Hindun, hati-hatilah menjaga anak-anak, agar mereka jangan sampai bertemu dengan orang itu (Mush ‘ab bin ‘Umair)!”
“Ya," jawab istrinya. "Tapi apakah kau pernah mendengar putra kita bercerita mengenai pemuda itu?”
“Celaka! Apakah Mu’adz telah masuk agama orang itu?" tanya Amr gusar.
“Tidak, bukan begitu! Tetapi Mu’adz pernah hadir dalam majelis orang itu, dia ingat kata-katanya,” jawab istrinya menenteramkan hati Amr.
"Panggillah dia kemari!” perintah suaminya.
Ketika Mu’adz hadir di hadapan ayahnya, Amr berkata, “Coba baca kata-kata yang pernah diucapkan orang itu. Bapak ingin mendengarkannya."
Mu’adz membacakan surat Al-Fatihah kepada bapaknya.
“Alangkah bagus dan indahnya kalimat itu. Apakah setiap ucapannya seperti itu?” tanya Amr.
“Bahkan lebih bagus dari itu. Bersediakah ayah baiat dengannya? Rakyat ayah telah banyak yang baiat dengan dia,” kata Mu’adz.
Orang tua itu diam sebentar. Kemudian dia berkata, “Aku tidak akan melakukannya sebelum musyawarah lebih dahulu dengan Manat. Aku menunggu apa yang dikatakan Manat.”
“Bagaimana Manat bisa menjawab? Bukankah itu benda mati, tidak bisa berpikir dan tidak bisa berbicara?” kata Mu’adz.
“Kukatakan padamu, aku tidak akan mengambil keputusan tanpa dia!” tegas Amr.
Putra-putranya mengetahui benar kapan ayah mereka menyembah berhala itu. Mereka juga tahu kalau hati ayah mereka mulai goyah. Oleh sebab itu, mereka mencari jalan bagaimana cara menghilangkan patung tersebut dari hati Amr bin Jamuh. Salah satu jalannya adalah menyingkirkan berhala tersebut dari rumah mereka dan membuangnya jauh-jauh.
Pada suatu malam, putra-putra Amr dan bersama Mu’adz bin Jabal menyusup ke dalam rumah lalu mengambil berhala tersebut dan membuangnya ke dalam lubang kotoran manusia. Tidak seorang pun yang mengetahui dan melihat perbuatan mereka itu.
Pagi harinya, Amr tidak melihat Manat di tempatnya. Ia bergegas mencari berhala tersebut dan akhirnya menemukan di tempat pembuangan kotoran. Bukan main marahnya Amr bin Jamuh melihat kondisi sesembahannya itu. Setelah membersihkan sang berhala dan memberinya wewangian, ia kembali meletakkannya di tempat semula.
Malam berikutnya, Muadz bin Jabal dan putra-putra Amr memperlakukan berhala itu seperti sebelumnya. Demikian juga pada malam-malam berikutnya. Akhirnya, habislah kesabaran Amr. Diambilnya pedang, kemudian digantungkannya di leher Manat, seraya berkata, " Hai Manat, jika kamu memang hebat, tentu bisa menjaga dirimu dari aniaya orang lain!"
Keesokan harinya, Amr bin Jamuh tidak menemukan berhalanya kembali. Ketika ia cari, benda tersebut ditemukannya di tempat pembuangan hajat, terikat bersama bangkai seekor anjing. Di saat ia keheranan, marah dan kecewa, muncullah beberapa pemuka Madinah yang telah masuk Islam. Sambil menunjuk berhala yang terikat dengan bangkai anjing itu, mereka berusaha mengetuk hati Amr bin Jamuh agar menggapai hidayah Allah.
Akhirnya ia sadar, bahwa Manat tak dapat berbuat apa-apa. Manat ternyata tak mempunyai sifat ketuhanan sedikit pun. Selama ini, ia berpikir bahwa kekayaan yang ia miliki itu datang dari Manat. Sekarang ia sadar, bahwa Manat bukanlah Tuhan yang dapat memberinya rezeki dan petunjuk.
Ia kemudian membersihkan badan dan pakaiannya, memakai wewangian, lalu bergegas menemui Nabi Muhammad SAW untuk menyatakan keislamannya. Amr bin Jamuh merasakan bagaimana manisnya iman. Dia sangat menyesali dosa-dosanya selama dalam kemusyrikan. Maka setelah masuk Islam, ia mengarahkan seluruh hidupnya, hartanya, dan anak-anaknya dalam menaati perintah Allah dan Rasul-Nya.
Tatkala terjadi Perang Badar, Amr bin Jamuh bersiap-siap hendak turut bergabung, namun sayang Rasulullah tak mengizinkannya turut serta—melihat kondisinya yang renta dan pincang. Beliau memberikan keringanan padanya untuk tidak ikut berperang.
Namun ketika terjadi Perang Uhud, ia pun bersiap-siap hendak turut berjihad. Namun putra-putranya melarang. Ia pun nekat menemui Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah, putra-putraku melarangku berbuat kebajikan. Mereka keberatan jika aku ikut berperang karena sudah tua dan pincang. Demi Allah, dengan pincangku ini, aku bertekad meraih surga."
Rasulullah pun akhirnya mengizinkan Amr bin Jamuh turut serta dalam Perang Uhud. Dengan suara mengiba ia memohon kepada Allah SWT, "Ya Allah, berilah aku kesempatan untuk memperoleh syahid. Jangan kembalikan aku kepada keluargaku."
Tatkala perang berkecamuk, kaum Muslimin berpencar. Amr bin Jamuh berada di barisan paling depan. Dia melompat dan berjingkat seraya mengelebatkan pedangnya ke arah musuh-musuh Allah, sambil berteriak, "Aku ingin surga, aku ingin surga!"
Apa yang didambakan Amr akhirnya terwujud jua. Ia gugur sebagai syahid bersama beberapa sahabat lainnya. Tatkala perang berakhir, Rasulullah SAW memerintahkan untuk memakamkan jasad Abdullah bin Amr bin Haram dan Amr bin Jamuh dalam satu liang lahat. Semasa hidup, mereka berdua adalah sahabat setia yang saling menyayangi. Dalam riwayat lain disebutkan, Amr bin Jamuh dimakamkan satu liang dengan putranya, Khalad bin Amr.
Setelah 46 tahun berlalu, tanah pemakaman itu dilanda banjir. Kaum Muslimin terpaksa memindahkan jasad para syuhada. Kala itu, Jabir bin Abdullah bin Haram—putra Abdullah bin Amr bin Haram—masih hidup. Bersama keluarganya, ia memindahkan jasad ayahnya, Abdullah bin Haram dan Amr bin Jamuh. Mereka mendapatkan kedua jasad syuhada itu tetap utuh. Tak sedikit pun dari tubuh mereka yang dimakan tanah. Bahkan keduanya seperti tertidur nyenyak dengan bibir menyunggingkan senyum.
Amr bin Jamuh, Menggapai Surga dengan Kaki Pincang
By Unknown
![]() |
| Ashim bin Tsabit, Jasadnya Dijaga Allah |
Perang Badar baru saja usai. Kaum Quraisy bertekad membalas kekalahan mereka. Kedengkian dan nafsu untuk balas dendam terus berkobar di dada kaum Quraiys. Tidak saja kaum pria, bahkan perempuan-perempuan bangsawan kaum Quraisy pun turut pula ke Uhud untuk menggelorakan semangat perang.
Di antara para wanita itu terdapat Hindun binti Utbah (istri Abu Sufyan bin Harb), Raithah binti Munabbih (istri Amr bin Ash), Sulafah binti Sa’ad beserta suaminya, Thalhah, dan tiga orang anak laki-lakinya: Musafi', Julas, dan Kilab, serta banyak lagi wanita-wanita lainnya.
Ketika pasukan-pasukan Islam dan musyrikin bertemu di medan Uhud, dan api peperangan pun menyala, Hindun binti Utbah dan beberapa perempuan lain berdiri di belakang pasukan pria. Mereka memegang rebana dan menabuhnya sambil menyanyikan lagu peperangan. Lagu-lagu mereka membakar semangat pasukan berkuda, membuat para suami bagai terkena sihir.
Pertempuran pun usai. Kaum Quraisy meraih kemenangan pada peperangan tersebut. Para wanita Quraisy berlompatan, berlarian ke tengah medan pertempuran, mabuk kemenangan. Mereka mencincang dan merusak mayat-mayat kaum Muslimin yang gugur dalam pertempuran tersebut dengan cara yang sangat keji. Perut mayat-mayat itu mereka belah, matanya dicongkel, telinga dan hidungnya dipotong.
Bahkan seorang di antara mereka tidak puas dengan cara begitu saja. Hidung dan telinga mayat-mayat itu dibuatnya menjadi kalung, lalu dipakainya untuk membalaskan dendam bapak, saudara, dan pamannya yang terbunuh di Badar.
Sulafah binti Sa’ad lain pula caranya. Dia tidak seperti perempuan lain. Hatinya guncang dan gelisah menunggu kemunculan suami dan ketiga orang anaknya. Dia berdiri bersama kawan-kawannya yang sedang mabuk kemenangan. Setelah lama menunggu dengan sia-sia, akhirnya dia masuk ke arena pertempuran, sampai jauh ke dalam. Diperiksanya satu per satu wajah mayat-mayat yang bergelimpangan.
Tiba-tiba didapatkannya mayat suaminya terbaring hampa berlumuran darah. Dia melompat bagaikan singa betina ketakutan. Kemudian, ditujukannya pandangan ke segala arah mencari anak-anaknya: Musafi', Kilab, dan Julas. Tidak berapa lama dia mencari ke segenap lapangan, didapatinya Musafi dan Kilab telah tewas. Namun Julas masih hidup dengan nafas kembang-kempis.
Sulafah memeluk tubuh anaknya yang setengah sekarat. Kemudian diletakkannya kepala anak itu ke pahanya. Dibersihkannya darah dari kening dan mulutnya. Air matanya kering karena pukulan berat yang sangat mengguncang hatinya.
Kemudian, ditatapnya wajah anaknya seraya bertanya, “Siapa lawan yang menjatuhkanmu?”
Dengan nafas putus nyambung Julas menjawab, “Ashim bin Tsabit, dia pula yang memukul roboh Musafi' dan...”
Belum habis dia berbicara, nafasnya sudah putus. Sulafah binti Sa’ad bagaikan orang gila. Dia menangis dan meraung sekencang-kencangnya. Dia bersumpah tidak akan makan dan menghapus air mata, kecuali bila orang Quraisy membalaskan dendamnya terhadap Ashim bin Tsabit, dan memberikan batok kepala Ashim kepadanya untuk dijadikan mangkok tempat minum khamr. Dia juga berjanji akan memberikan hadiah dan uang yang banyak bagi orang yang dapat menyerahkan Ashim bin Tsabit kepadanya, hidup atau mati!
Janji Sulafah itu tersiar cepat ke seluruh Quraisy. Setiap pemuda Makkah berharap mereka dapat memenangkan lomba itu, dan membawa Ashim kepada Sulafah untuk memperoleh hadiah besar yang dijanjikannya.
Seusai Perang Uhud, kaum Muslimin kembali ke Madinah. Mereka membicarakan pertempuran yang baru dialami. Sama-sama memperlihatkan rasa sedih atas pahlawan-pahlawan yang syahid, memuji keberanian orang-orang yang terluka, dan sebagainya. Mereka pun tidak ketinggalan menyebut nama Ashim bin Tsabit yang dikatakan sebagai pahlawan gagah tak terkalahkan. Mereka kagum bagaimana Ashim mampu merobohkan tiga bersaudara sekaligus.
Seorang di antaranya berkata, “Itu soal yang tidak perlu diherankan. Bukankah Rasulullah pernah mengingatkan ketika beliau bertanya bebarapa saat sebelum berkobar Perang Badar, “Bagaimana caranya kamu berperang?”
Lalu Ashim tampil dengan busur panah di tangan, lalu berkata, “Jika musuh berada di hadapanku seratus hasta, aku panah dia. Apabila musuh mendekat dalam jarak tikaman lembing, aku bertanding dengan lembing sampai patah. Jika lembingku patah, kuhunus pedang, lalu aku main pedang.”
Maka Rasulullah bersabda, “Nah, begitulah berperang. Siapa yang hendak berperang, berperanglah seperti Ashim.”
Tidak berapa lama setalah Perang Uhud, Rasulullah memilih enam orang sahabat untuk melaksanakan suatu tugas penting, dan beliau mengangkat Ashim bin Tsabit sebagai pemimpin. Orang-orang terpilih ini berangkat melaksanakan tugas yang dibebankan oleh Rasulullah kepada mereka.
Di tengah jalan, tidak jauh dari Makkah, sekelompok kaum Hudzail melihat kedatangan mereka. Kelompok itu segera mengepung mereka dengan ketat. Ashim dan kawan-kawan dengan sigap menyambar pedang masing-masing, dan siap siaga menghadapi segala kemungkinan.
Kata orang-orang Hudzail, “Kalian tidak akan berdaya melawan kami. Demi Allah, kami tidak akan berlaku jahat terhadap kalian jika kalian menyerah. Kalian boleh memercayai sumpah kami dengan nama Allah.”
Para sahabat Rasulullah berpandangan satu sama lain seolah-olah bermusyawarah, sikap apa yang harus diambil. Ashim menoleh kepada kawan-kawannya seraya berkata, “Aku tidak dapat memegang janji orang-orang musyrik itu.”
Kemudian diingatnya sumpah Sulafah untuk menangkapnya. Ashim kemudian menghunus pedangnya sambil berdoa, “Wahai Allah, aku memelihara agama-Mu dan bertempur karenanya. Maka lindungilah daging dan tulangku, jangan biarkan seorang musuh pun menjamah.”
Ashim dan rekan-rekannya menyerang orang-orang Hudzail. Mereka bertiga bertempur mati-matian, sehingga akhirnya roboh dan gugur satu per satu. Adapun kawan Ashim tiga lagi menyerah sebagai tawanan. Mereka dikhianati oleh kaum Hudzail yang tidak memenuhi janji.
Pada mulanya kaum Hudzail tidak mengetahui bahwa salah seorang di antara korban mereka adalah Ashim bin Tsabit. Namun setelah tahu bahwa salah satunya adalah Ashim, mereka pun girang bukan kepalang, karena membayangkan hadiah besar yang akan diperoleh.
Hanya beberapa saat setelah kematian Ashim bin Tsabit dan kawan-kawan, kaum Quraisy telah mencium beritanya. Karena kaum Hudzail tinggal tidak jauh dari kota Makkah, para pemimpin Quraisy segera mengirim utusan kepada pembunuh Ashim, meminta kepala Ashim untuk menghilangkan dahaga Sulafah binti Sa’ad, dan menyempurnakan sumpahnya.
Para pemimpin Quraisy membekali para utusan itu dengan uang yang memadai, dan menyuruh mereka menyerahkan seluruh uang itu kepada kaum Hudzail demi untuk mendapatkan kepala Ashim.
Kaum Hudzail pergi mencari mayat Ashim untuk memisahkan kepalanya dari jasad. Tetapi alangkah ajaib, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sarang lebah dan gerombolan serangga yang menyerang dari segala arah. Ketika mereka hendak menghampiri tubuh Ashim yang telah menjadi mayat, serangga itu terbang menyeranga, menggigiti muka, mata, dan kening. Bahkan seluruh tubuh mereka luput dari gigitan, sehingga mereka tidak bisa mendekati jenazah Ashim.
Setelah mereka mencoba berulang-ulang menghampiri mayat Ashim, mereka selalu gagal, akhirnya menyerah. “Biarkanlah dahulu sampai malam. Biasanya bila hari telah malam, mereka terbang. Maka tinggallah mayat itu untuk kita,” kata seseorang.
Mereka kemudian duduk menunggu sampai malam. Namun ketika langit mulai gelap, tiba-tiba kilat dan petir menggelegar sambung-menyambung. Hujan pun turun dengan lebatnya bagai dicurahkan dari langit. Setahu mereka belum pernah terjadi hujan sedemikian lebat. Dengan cepat air mengalir dari tebing-tebing memenuhi sungai-sungai dan menutup permukaan lembah. Banjir besar segera datang melanda segala yang ada.
Setelah Subuh tiba, mereka bangkit kembali mencari tubuh Ashim di segala penjuru. Namun usaha mereka sia-sia, bahkan mereka tidak menemukan bekas-bekasnya. Rupanya banjir telah menghanyutkan mayat Ashim tanpa diketahui ke mana perginya.
Allah SWT memperkenankan doa Ashim bin Tsabit. Dia melindungi mayat Ashim yang suci, jangan sampai dijamah oleh tangan-tangan kotor orang-orang musyrik.
Kisah Sahabat Nabi: Ashim bin Tsabit, Jasadnya Dijaga Allah
By Unknown
| Pria-Pria Tampan Ini Memilih Allah Sebagai Tujuan Hidupnya |
Di akhir zaman seperti sekarang ini, sulit sekali menemukan lelaki tampan yang juga memiliki hati yang tampan. Maksudnya, rajin beribadah, shaleh, sayang dan peduli kepada orang tuanya serta sederet sifat lain yang mampu meluluhkan hati seperti ketampanan yang dimilikinya.
Bukan tidak ada, namun sepertinya terselip satu diantara ribuan laki-laki lain di bumi Allah ini. Seperti halnya tiga laki-laki tampan berikut ini, wajah bak model yang dimilikinya juga disertai dengan kecintaannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Buktinya mereka mampu menghafal Al-Quran dengan baik dan berani meninggalkan gemerlap dunia modeling untuk menjadi hamba Allah yang taat. Siapa sajakah mereka?
Fatih Seferagic
| Fatih Seferagic |
Lelaki yang menyelesaikan hafidznya di Islamic Society of Baltimore di bawah asuhan Syaikh Qari Zahid dan Qari Abid ini menghafal Al-Quran sejak berumur 14 tahun. Selain menghafal Al-Quran Fatih pun menjadi pemimpin aktivis pemudaMasjid Syaikh Yasir Birjas di Dallas, Texas.
Kecintaanya terhadap Al-Quran pun mendorongnya untuk mempelajari Bahasa Arab. Pada tahun 2010, Seferagic belajar Bahasa Arab di Bayyinah Dream Program. Ia kemudian tumbuh sebagai pemuda yang bukan hanya pandai dalam ilmu agama, namun ia juga dalam kehidupan sosial.
Ketampanan yang dimilikinya tak lantas lupa kepada Allah. Ia terus mempelajari Al-Quran dan sering diundang untuk menjadi Imam di mesjid-mesjid besar. Masya Allah.
Luis Ibrahim Hernandez Martinez
| Luis Ibrahim Hernandez Martinez |
Memiliki tinggi tubuh 193cm, mata hijau terang dan senyum menawan membuat Luis Ibrahim selama bertahun-tahun berkesempatan untuk mencicipi kemudahan hidup duniawi sebagai seorang model. Pendapatan dari sekali pemotretan, diakui Luis dapat memenuhi kehidupannya dan keluarga hingga satu tahun tanpa pekerjaan yang lain.
Namun, kemewahan hidup yang sangat mudah didapatkannya tersebut ia lepaskan untuk istiqomah menjadi kekasih Allah. Ya, kini lelaki yang wajahnya sempat menghiasi banyak cover majalah ini menghabiskan banyak waktunya di dalam mesjid. Layaknya seorang marbot mesjid, ia tak canggung membetulkan pegangan pintu yang rusak bahkan mengecat beberapa bagian mesjid. Ia tak takut sama sekali mengenai rezeki yang akan didapatkannya, karena yakin sudah diatur oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Islam itu hanya akan bisa maju dan berkembang jika ekosistemnya bisa dijaga dengan baik. Harus ada orang yang kaya secara materi, harus ada orang yang ahli ilmu (tahu Fiqih, Hadist, tafsir), harus ada yang menghafalkan Al Qurán. Untuk orang-orang yang tidak kaya, tidak ahli ilmu dan tidak menghafal Al-Qurán seperti saya, tanggungjawabnya adalah menjaga masjid,” Ujar Luis Ibrahim merendah
Faisal Latif
| Faisal Latif |
Pemuda tampan ini mengaku sangat mencintai nasyid. Ya, memang bukan hanya musiknya namun lirik lagu-lagu nasyid biasanya mampu mendamaikan hati yang sedang berduka, bingung atau gelisah. Faisal biasanya mengunggah video muratalnya di channel youtube pribadinya dengan akun OneWakiMuslim. Selain di Youtube, ia juga mengunggah rekaman suaranya yang merdu di akun instagram miliknya @justfaisallatif.
Dalam beberapa postingan di Instagramnya pun, ia kerap kali memperlihatkan kedekatannya dengan sang Ibu. Sangat terlihat ia sungguh mencintai Ibunya tersebut. Masya Allah idaman sekali ya.
Pria-Pria Tampan Ini Memilih Allah Sebagai Tujuan Hidupnya
By Unknown
| Sungguh Miris, 200 Karyawan Muslim Ini Dipecat Gara-Gara Salat Saat Jam Kerja |
Sekitar 200 karyawan muslim imigran asal Somalia, dipecat sepihak perusahaan pengepakan daging, Cargill Meat Solutions, hanya karena melaksanakan salat di jam kerja.
Dilansir Associated Press, Sabtu (1/1), perusahaan yang berbasis di Colorado, AS, ini melakukan pemecatan massal, karena menilai karyawan muslim ini sudah menggunakan tempat dan membuang waktu kerja.
Pemecatan ini mendapat perlawanan dari para pekerja. Mereka mengaku sebelumnya selalu diberikan izin untuk beribadah, namun kebijakan itu berubah dengan masuknya manajemen baru.
Juru bicara Dewan Hubungan Amerika-Islam (CAIR) Colorado, Jaylani Hussein mengatakan pemecatan ini sangat diskriminatif.
''Mereka tidak membuat masalah dan hanya ingin beribadah sejenak dan melanjutkan kerja setelahnya,'' kata Hussein.
Dengan banyaknya reaksi yang muncul setelah itu, pihak perusahaan yang memiliki 155 ribu karyawan di 68 negara bagian AS membantah telah memecat karena karyawan melaksanakan salat. Mereka beralasan pemecatan itu karena karyawan bekerja asal-asalan.
''Kami harus pastikan keamanan pangan dan produk kami untuk kepuasan konsumen,'' kata pihak perusahaan.
Sungguh Miris, 200 Karyawan Muslim Ini Dipecat Gara-Gara Salat Saat Jam Kerja
By Unknown
| Tahukah Kamu Setiap Jumlah Garis Di Pergelangan Tangan Anda Mempunyai Arti |
Garis yang ada pada pergelangan tangan Anda, ternyata mempunyai makna yang berbeda-beda. Terlebih terkait dengan kesehatan seorang, kesejahteraan serta keberuntungan.
Pakar metafisika sudah menghubungkan garis pada pergelangan tangan dengan berapakah lama seorang bakal hidup. Bahkan juga, teori itu menyampaikan, garis pada pergelangan tangan dapat memperkirakan berapakah usia Anda.
Saat ini, bila Anda telah mengkalkulasi berapakah jumlah garis yang Anda punyai pada pergelangan tangan Anda, mari cari tahu apa artinya.
1. Garis pergelangan tangan pertama.
Sesungguhnya, garis pergelangan tangan itu adalah yang paling utama. Bila garis itu tampak terang serta dalam, itu tunjukkan kesehatan Anda baik keseluruhannya.
Pada umumnya, beberapa orang yang mempunyai garis itu sehat dengan cara fisik.
Namun, bila garis pertama itu tak terlampau terang, itu tunjukkan beberapa permasalahan kesehatan.
Pada wanita, bila garis pertama membentang ke arah telapak tangan atau putus-putus, hal semacam ini tunjukkan permasalahan ginekologi, seperti susah hamil, menstruasi tak teratur dan sebagainya.
Sedang pada pria, bila garis pertama mengarah ke telapak tangan atau atas atau putus-putus, itu tunjukkan ada masalah prostat, kemih, atau permasalahan reproduksi.
2. Garis pergelangan tangan ke-2.
Hal semacam ini berkenaan dengan kekayaan seorang, kemakmuran serta kebahagiaan. Idealnya, garis ke-2 itu terputus-putus.
3. Garis pergelangan tangan ketiga.
Hal ini terkait dengan karir serta keberhasilan seorang. Orang yang punya pengaruh, bakal mempunyai garis lurus tak terputus.
4. Garis pergelangan tangan ke empat.
Umumnya garis itu sejajar dengan garis ketiga serta mendukungnya.
Sedang untuk perkiraan usia, bila garis pergelangan pertama tampak lebih terang serta tak terputus, bermakna Anda bakal hidup dengan rentang umur 23-28 th..
Garis pergelangan ke-2, berumur 46-56 th., garis ketiga 69-84 th., serta garis paling akhir atau ke empat berumur kian lebih 84 th..
Baris ke empat memanglah cukup langka, umumnya orang umumnya cuma mempunyai 2-3 garis.
Yakin atau tidak, semuanya bergantung pada penilaian Anda masing-masing..Jangan MUSYRIK ya..just share aja :D
Tahukah Kamu Setiap Jumlah Garis Di Pergelangan Tangan Anda Mempunyai Arti
By Unknown
| Kisah Nabi Zakaria, tak henti-hentinya berdoa akhirnya dikaruniai anak |
Kisah Nabi Zakaria, tak henti-hentinya berdoa akhirnya dikaruniai anak. Dalam Islam diajarkan untuk tidak sungkan mengajukan permintaan pada-Nya. Tidak ada syarat apapun untuk berdoa, pun tiada larangan mau sedikit ataupun banyak. Sebab manusia, meskipun tercipta sebagai makhluk paling sempurna dibanding yang lain, namun tetap memiliki sisi lemah dimana tak mampu mengatasi setiap apa yang dihadapi. Doa adalah sebagai bentuk pengakuan bahwa kamu membutuhkan Dia yang Maha mampu melakukan segalanya, termasuk kesulitan yang kamu ajukan dalam doa-doamu.
Bahkan kamu tentu tahu salah seorang penceramah yang amat getol menggiatkan orang-orang untuk tidak jemu memanjatkan doa. Ini karena selain perintah dalam Alquran, menurut beliau, juga karena Dia amat menyukai hamba yang sering menyapa lewat doa. Bahkan doa mampu merealkan yang sebenarnya mustahil, seperti kisah rasul berikut ini.
Adalah Nabi Zakaria dan istrinya pernah diberi cobaan hidup yaitu tak kunjung mendapat keturunan padahal pasangan ini telah berusia senja. Meskipun pada akhirnya Allah memberi keturunan jua namun mereka sempat mengalami kesedihan mendalam atas cobaan tersebut.
Dalam kepasrahannya itu, yang dilakukan Nabi Zakaria adalah tak berhenti berharap melalui panjatan doa pada-Nya. Di dalam Alquran, kisah ini diceritakan dalam surah Maryam ayat 1-15, dimana disebutkan bahwa beliau belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Nya.
Melalui doa dan yakinnya ini, pengharapannya berakhir manis, sebab beliau diberi keturunan yang bukan biasa-biasa saja. Putranya ini telah dijamin oleh-Nya takwa, mudah memahami Kitab Taurat, berbakti, mendapat kasih sayang-Nya, serta telah ditetapkan sebagai rasul.
Kisah Nabi Zakaria, tak henti-hentinya berdoa akhirnya dikaruniai anak
By Unknown
| Pemuda ini lebih memilih Muhammad daripadanya orangtuanya sendiri |
Muhammad memiliki seorang budak yang ditebus dan dihadiahkan oleh istrinya di hari pernikahan mereka. Dia adalah Zayd yang berusia 15 tahun, memiliki ayah dan ibu yang berasal dari tempat terpandang pada masa itu yaitu Kalb dan Tayy. Takdirnya bisa menjadi budak ialah dikarenakan pada suatu waktu keluarganya kedatangan rampok yang juga menculik serta menjual dirinya menjadi budak di Makkah.
Setelah menjadi pelayan Muhammad, Zayd menantikan orang-orang dari suku ayahnya mengunjungi kakbah ketika musim haji. Ia menitipkan pesan dalam bentuk syair kepada rombongan haji dari Kalb. Maka sekembalinya jamaah ini ke asalnya, tersampaikanlah kabar tentang keberadaan Zayd ini ke telinga sang ayah, Haritsah.
Mendengar kabar itu, berangkatlah Haritsah ke Makkah ditemani seorang saudaranya Ka'b menemui Muhammad dengan maksud menebus putranya dengan harga berapapun. Namun, dikutip brilio.net dari buku Muhammad, Kisah Hidup Nabi Berdsarkan Sumber Klasik karya Martin Lings, bahwasanya sang nabi tidak langsung memberikannya.
Muhammad menawarkan, "Biarkanlah ia memilih. Jika ia memilihmu, ia akan menjadi milikmu tanpa tebusan. Tapi, jika ia memilihku, aku tidak akan menolak siapa saja yang memilihku."
Zayd yang telah mengenali ayah dan pamannya itu, ketika diminta memilih bersama Muhammad atau keluarganya, ternyata dengan mantap menjawab, "Aku tidak akan memilih siapapun selain engkau. Bagiku, engkau laksana ayah dan ibu," jawabnya kepada Muhammad.
Tentu saja kedua orang dari Kalb tadi protes keras, namun Zayd yang mengakui bahwa betapa baiknya majikannya itu mengatakan pada ayahnya, "Aku telah menyaksikan dari dia (Muhammad) sesuatu yang membuatku tidak dapat memilih siapapun selainnya."
Muhammad lantas membawa mereka menuju Ka'bah sebelum pertengkaran lebih lanjut terjadi. Di situ, Muhammad mengangkat Zayd sebagai anak yang kelak akan mendapat warisan dari dirinya. Sejak itu, bebaslah remaja itu dari perbudakan, ia lantas dikenal dengan nama Zayd bin Muhammad. Nama ini dipakai lama sampai turunnya wahyu yang berisi perintah anak angkat harus menggunakan nama keluarga kandung agar jelas siapa keluarga yang punya hubungan darah dengannya, yaitu Al Ahzab ayat 4-5.
Sang ayah meskipun tak mendapatkan Zayd namun merasa bangga karena anaknya mendapat tempat yang baik dan dimuliakan oleh penduduk Makkah.
Pemuda ini lebih memilih Muhammad daripadanya orangtuanya sendiri
By Unknown
![]() |
| Sahabat yang Menangis Karena Rasulullah SAW |
Mu’adz bin Jabal yang menjerti dan menagis teresak-esak sehingga beliau pengsan oleh sebab dapat berita tentang kematian Rasulullah SAW.
Rasulullah telah patah gigi di dalam perang Uhud, berita itu sampai ke Awais dan Awais di rumahnya sanggup mematahkan giginya sendiri kerana hendak merasai apa yg Rasulullah telah rasai.
Ada seorang pedagang minyak wangi, di Madinah. Setiap kali pergi ke pasar, dia singgah dulu ke rumah Rasulullah Saw, dia tunggu sampai Rasulullah keluar. Setelah Rasulullah keluar, dia hanya mengucapkan salam lalu memandang Rasulullah saja, setelah puas dia pergi. Suatu hari setelah dia ketemu Rasululllah dan dia pergi, lalu tak lama kemudian balik dari pasar dan dia datang kepada Rasulullah Saw dan meminta izin, “Saya ingin melihat engkau ya Rasulullah, karena saya takut dan tidak sanggup tidak dapat melihat tuan seperti ini lagi.”
Abu Ayyub Al-Anshari. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau beristirahat dahulu di pinggiran kota menginap di rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Rumahnya itu dua tingkat, Abu Ayyub dan istrinya di tingkat atas dan Rasulullah Saw di bawah. Pada malam hari Abu Ayub dan istrinya tidak sanggup tidur karena mereka takut menggerakkan tubuhnya, semua terbujur seperti sebongkah kayu menahan dirinya untuk tidak bergerak. Mereka takut kalau bergerak, nanti debu-debu dari atas itu berjatuhan kepada Rasulullah. Setelah Rasulullah mengetahui hal itu, beliau sangat terharu lalu kepada Abu Ayub diajarkan sebuah doa sebagai penghargaan beliau atas cinta yang tulus dari Abu Ayub.
Dalam perang Uhud, ketika kaki Rasulullah terluka, ada seorang sahabat melihatnya lalu mengejar Rasulullah. Dia pegang kaki itu lalu dia bersihkan luka itu dengan jilatannya. Rasulullah terkejut lalu berkata, “Lepaskan! Lepaskan!” Sahabat itu berkata: “Tidak Ya Rasulullah, aku tidak akan melepaskannya sampai luka ini kering!”
Rasulullah sedang membariskan pasukannya karena Rasulullah selalu merapikan barisan pasukannya. Ternyata ada seorang sahabat, mungkin karena perutnya terlalu besar, selalu perutnya itu berada di luar barisan. Kemudian Rasulullah datang dan memukul perutnya itu agar dirapikan dengan barisan. Lalu sahabat itu memandang Rasulullah dan berkata: “Engkau diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam, kenapa kau sakiti perutku?” Lalu Rasulullah turun dari kudanya, dan menyerahkan alat pemukul itu, lalu berseru: “Pukullah aku! Sebagai qishas atas kesalahanku.” Kemudian orang itu berkata: “Tapi engkau pukul langsung kepada kulit perutku.” Lalu Rasulullah segera membuka pakaiannya, tiba-tiba sahabat itu memeluk Rasulullah dan mencium perutnya. Rasulullah terkejut dan berkata: “Ada apa denganmu?” Sahabat itu menjawab: “Ya Rasulullah, genderang perang sudah ditabuh, mungkin ini adalah saat terakhir perjumpaanku denganmu. Saya ingin sebelum meninggal dunia, sempat mencium perutmu yang mulia.”
Bilal yang selalu adzan semasa hidup Rasulullah tidak mau beradzan lagi setelah wafat Rasulullah karena Bilal tidak sanggup mengucapkan “Asyhadu anna Muhammad Rasululah” karena ada kata-kata Muhammad di situ. Tapi karena desakan Sayyidah Fatimah yang saat itu rindu mendengar suara adzan Bilal, dan mengingatkan beliau akan ayahnya. Bilal akhirnya dengan berat hati mau beradzan. Saat itu waktu Subuh, dan ketika Bilal sampai pada kalimat Asyhadu anna Muhammad Rasulullah, Bilal tidak sanggup meneruskannya, dia berhenti dan menangis terisak-isak. Dia turun dari mimbar dan minta izin pada Sayyidah Fatimah untuk tidak lagi membaca adzan karena tidak sanggup menyelesaikannya hingga akhir. Ketika Bilal berhenti saat adzan itu, seluruh Madinah berguncang karena tangisan kerinduan akan Rasulullah Saw.
Seorang budak bernama Tsauban sangat menyayangi dan hatinya selalu merindukan Rasulullah Muhammad SAW. Sehari saja tidak bertemu Nabi, rasanya seperti setahun baginya. Kalau bisa dia ingin bersama Rasul setiap waktu. Karena jika tidak bertemu Rasulullah, dia amat sedih, murung dan seringkali menangis. Demikian juga yang dilakukan Rasulullah terhadap Tsauban begitu mengetahui betapa besarnya kasih sayang Tsauban terhadap dirinya. Suatu hari Tsauban berjumpa Rasulullah SAW dan berkata, “Ya Rasulullah, saya sebenarnya tidak sakit, saya sangat sedih jika berpisah dan tidak bertemu denganmu walaupun sekejap. Jika sudah bertemu barulah hatiku menjadi tenang dan gembira sekali. Apabila memikirkan akhirat, hati ini bertambah cemas dan takut kalau-kalau tidak dapat bersama denganmu. Kedudukanmu sudah tentu di syurga yang tinggi. Sedangkan saya belum tentu, entah di syurga paling bawah atau yang paling mencemaskan, kemungkinan tidak dimasukkan ke syurga langsung. Jika demikian, tentu saya tidak akan bertemu denganmu lagi.” Rasulullah amat terharu mendengar perkataan Tsauban. Namun beliau tidak dapat berbuat apa-apa karena balasan surga atau neraka bagi setiap hamba itu hak dan urusan Allah. Maka setelah peristiwa itu, turunlah wahyu kepada Rasulullah SAW yang berbunyi; “Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS An Nisaa’:69). Mendengar jaminan itu Tsauban pun tersenyum. Hatinya menjadi tenang dan gembira kembali.
Sahabat yang Menangis Karena Rasulullah SAW
By Unknown
![]() |
| Cerita haru suara sandal Bilal sampai terdengar Rasulullah dari surga |
Bilal bin Rabah merupakan sahabat Nabi Muhammad yang didaulat untuk mengumandangkan azan untuk pertama kalinya. Ia mempunyai ciri khas bertubuh hitam dan bersuara lantang. Karena masuk Islam, ia disiksa berkali-kali oleh majikannya, Umayyah bin Khalaf hingga akhirnya penyiksaan yang dilakukan diketahui oleh sahabat Abu Bakar. Abu Bakar kemudian memerdekakan Bilal bin Rabah dengan membayar tebusan yang lebih tinggi dari harganya.
Bilal, siapa yang mengira bahwa mantan budak ini akan mendapatkan kemuliaan di sisi Nabi Muhammad SAW, bahkan oleh Rasulullah telah digaransi masuk surga.
Diceritakan bahwa selepas salat subuh berjamaah, Rasulullah memanggil Bilal dan bertanya kepadanya. "Katakanlah kepadaku, apa amalanmu yang paling besar pahalanya yang kamu kerjakan dalam Islam? Karena sesungguhnya aku mendengar hentakkan sandalmu di surga." Suara sandal Bilal terdengar oleh Rasulullah ketika ia berada di surga pada malah Isra' Mi'raj.
"Setiap aku berwudhu, kapanpun itu, baik siang maupun malam, aku selalu melakukan salat dengan wudhu tersebut," jawab Bilal.
Jadi Bilal merupakan orang yang selalu menjaga kesehariannya dengan berwudhu. Setiap wudhunya itu batal, maka ia akan berwudhu lagi kemudian melakukan salat dua rakaat setelah wudhu tersebut.
Ternyata karena amalan tersebut Bilal menjadi istimewa. Kekonsistenan Bilal dalam menjaga kesuciannya dengan berwudhu membuat suara sandalnya terdengar oleh Rasulullah di surga. Hal itu membuktikan bahwa apa yang ia lakukan diridai oleh Allah SWT.
Zaman sekarang kita hanya berwudhu untuk mensucikan diri dari hadas kecil ketika hendak melaksanakan salat. Di luar salat, kita jarang sekali berwudhu atau menjaga wudhu kita. Padahal dengan berwudhu kita menjaga kesucian badan, hati, dan pikiran kita.
Cerita haru suara sandal Bilal sampai terdengar Rasulullah dari surga
By Unknown
![]() |
| Lahirkan Cucu Jokowi, Selvi Ditempatkan di Kamar Seharga Rp900 Ribu |
Selvi Ananda, menantu Presiden Joko Widodo melahirkan di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta. Sampai saat ini Selvi masih berada di ruang ruang pemulihan.
Pihak Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta sendiri belum bisa menentukan kapan Selvi akan dipindahkan ke kamar khusus VVIP yang telah disiapkan.
"Kamar khusus untuk Selvi sudah dipesan jauh hari sebelum Selvi melahirkan di sini. Selvi akan menempati kamar VVIP," ujar satpam tersebut saat ditemui Okezone di Solo, Kamis (10/3/2016).
Sementara Wakil Direktur PKU Muhammadiyah Surakarta, Eko Wandoyo tak menjelaskan di mana Selvi akan ditempatkan. Namun ia menuturkan untuk kamar VVIP di RS PKU Muhammadiyah, dihargai Rp900 ribu per hari.
"Saya tidak tahu di mana Selvi akan ditempatkan. Saya malah baru tahu bahwa mbak Selvi akan ditempatkan di kamar VVIP. Namun kalau kamar VVIP di sini seharinya Rp900 ribu," ucapnya.
Sedangkan total biaya perawatan yang biasa diterapkan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, bila proses kelahiran itu dilakukan, biasannya menghabiskan dana sebesar Rp22 juta.
"Tapi untuk lengkapnya, silakan ditanyakan langsung ke bagian keuangan. Tapi kurang lebihnya segitu. Itu umum, tanpa melihat apakah itu anak presiden atau bukan," pungkasnya.
Lahirkan Cucu Jokowi, Selvi Ditempatkan di Kamar Seharga Rp900 Ribu
By Unknown
![]() |
| Masya Allah.. Dua Mualaf Jerman Dakwah 'On The Street' Mengajak Kepada Islam dengan Membagikan Al-Quran |
Dua mualaf Jerman berdakwah 'on the street' mengajak orang-orang kepada Islam dengan membagikan al-Quran terjemahan bahasa Jerman.
Masya Allah....
Semangat dakwah mereka yang baru memeluk Islam seakan menampar kita-kita yang sudah Islam sejak lahir.
وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلاً۬ مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَـٰلِحً۬ا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ
Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim". (QS Fushilat[41]: 33)
___
*Sumber foto: twitter @masajid_germany
Masya Allah.. Dua Mualaf Jerman Dakwah 'On The Street' Mengajak Kepada Islam dengan Membagikan Al-Quran
By Unknown
| Setiap Tahun Penguin Ini Tempuh 8.000 Km untuk Temui Penyelamatnya |
Seekor penguin menempuh jarak lebih dari 8.000 kilometer setiap tahunnya untuk mengunjungi seorang pria yang menyelamatkannya dari kematian.
Joao Pereira de Souza (71), seorang mantan tukang bangunan dan nelayan paruh waktu, menemukan seekor penguin yang terdampar di pantai pada 2011.
Saat terdampar di pantai Rio de Janeiro, Brasil itu, kondisi sang penguin sungguh mengenaskan, kelaparan dan tubuhnya terbungkus minyak.
Joao, kemudian memutuskan membawa hewan itu pulang dan merawatnya hingga sehat. Pria itu memberi nama Dindim untuk si penguin.
Setelah Dindim sehat kembali, Joao melepaskannya kembali ke alam bebas dan tidak pernah terpikir akan bertemu kembali dengan hewan tersebut.
Namun beberapa bulan setelah itu, Dindim muncul kembali di pantai Rio de Janeiro dan berjalan mengikuti Joao pulang ke kediamannya.
Menurut stasiun televisi Globo TV, Dindim tinggal selama delapan bulan bersama Joao baru kemudian berkumpul lagi dengan kawanannya di pantai Argentina dan Chile, sekitar 8.000 kilometer jauhnya dari Brasil.
"Saya mencintai Dindim seperti halnya anak sendiri dan saya yakin dia mencintai saya," kata Joao kepada Globo TV.
"Dia tak pernah membiarkan orang lain menyentuhnya. Dia bahkan mematuk mereka yang akan menyentuhnya. Namun, dia tidur di pangkuannya saya, membiarkan saya memandikannya, memberinya makan ikan dan menggendongnya," ujar Joao.
Butuh 11 bulan bagi Dindim untuk kembali pulih setelah ditemukan Joao terdampar di pantai. Dan selama empat tahun terakhir dia selalu datang untuk menemui Joao.
"Dia datang setiap Juni dan pergi lagi pada Februari. Dan setiap tahun dia nampak semakin bahagia bertemu saya," kata Joao.
Setiap Tahun Penguin Ini Tempuh 8.000 Km untuk Temui Penyelamatnya
By Unknown
![]() |
| Layani Ratusan Pasien, Dokter di Medan Rela Dibayar Sesuka Hati |
Di tengah era modernisasi seperti saat ini, sangat jarang ditemukan orang-orang yang rela membantu orang lain, tanpa mengharapkan imbalan. Apalagi menyangkut profesi yang disandang.
Namun, hal itu tak berlaku bagi Aznan Lelo. Dokter farmakologi yang membuka praktik di rumahnya di Jalan Puri, Kelurahan Kota Matsum, Medan, Sumatera Utara ini selalu didatangi ratusan pasien setiap harinya.
Tidak seperti dokter umumnya yang memasang papan nama di depan rumahnya, Buya Aznan Lelo, sapaan akrabnya, justru tidak melakukan itu. Kendati, pasien tetap percaya dan kembali berdatangan.
"Saya juga heran kenapa mereka banyak yang datang, padahal tidak ada papan nama. Bagi saya semua pasien tetap harus dilayani," kata Aznan saat ditemui Liputan6.com, Medan, Sumatera utara, Sabtu 5 Maret 2016.
Disinggung tarif berobat, pria kelahiran Bukit Tinggi 2 Desember 1951 ini menegaskan, dirinya tidak pernah mematok harga sepeser pun. Bagi dia, profesi seorang dokter sejatinya membantu orang sakit.
"Tidak pernah saya minta pasien, kalau mereka berobat tidak pernah saya tetapkan tarifnya, tapi kalau mereka memberi ya saya terima. Saya tidak mau terima langsung, istri saja yang membukanya," ucap Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) ini.
Aznan menyebut, praktik pengobatan ini mulai sejak 1978. Saat itu ia membuka praktik di kediaman orangtuanya, yang hanya berjarak 2 rumah dari kediamannya sekarang. Kemudian dia sempat berhenti pada 1983, saat ada kesempatan mengambil gelar Ph.D di Australia.
Dicekal
Namun, rencana tersebut awalnya tidak berjalan mulus. Saat hendak berangkat ke Negeri Kanguru, Aznan sempat dicekal pemerintah. Ketika itu ia dinilai sebagai aktivis Islam ekstremis dan sempat disamakan dengan orang-orang yang dilarang ke luar negeri.
"Sempat dicekal, tapi aku terus berjuang dan berusaha. Di sinilah aku berpikir bahwa kalau memang rezeki, pasti tidak lari dan akhirnya aku berangkat. Semua dibiayai pemerintah," ungkap pria yang memulai kuliah jurusan kedokteran sejak 1971 hingga 1978.
Saat kembali ke Indonesia pada 1987, awalnya Aznan tidak ingin membuka praktik. Namun, beberapa pasien yang pernah berobat kepada dia datang lagi, dan berharap agar dia membuka praktik, membantu masyarakat yang sakit.
"Kalau aku gunakan profesi dokterku ini untuk jadi kaya, aku pasti sudah kaya. Tapi aku enggak mau, bagiku orang miskin lebih menghargai profesi dokter, dibandingkan orang kaya. Itu yang buat aku senang jalani profesi seperti ini," ujar dia.
Terlahir dari ayah dan ibu yang berprofesi sebagai tukang jahit, Aznan yang saat ini menginjak 64 tahun, tidak pernah memiliki cita-cita sebagai dokter.
Sebagai anak yang suka pelajaran matematika saat di bangku sekolah, Aznan sangat mendambakan menjadi seorang sarjana nuklir.
"Abang saya bilang, saya jago matematika, ngapain jadi sarjana nuklir? Bagusnya jadi dokter," kenang dia.
"Ditanya lebih dulu lagi, kepala sekolah SD pernah nanya juga, mau jadi apa? Mau jadi orang berguna, tetapi beda dari yang lain. Rasanya sudah kesampaian sekarang," sambung Aznan.
Dukungan Istri
Meski profesi yang disandangnya kini bisa saja dapat menghasilkan banyak uang, namun Aznan enggan melakukan. Sang istri, Rahmayanti Yoesran, juga tidak pernah mengeluhkan.
"Buya kegiatannya dari pagi mengajar, kemudian buka praktik sore hari, tapi enggak pernah ngeluh capek atau sakit. Buya selalu mengaku senang dengan apa yang dilakukannya. Saya juga dukung kalau Buya seperti ini," kata Rahmayanti.
Perempuan 50 tahun ini mengaku, kepada anak-anaknya, Aznan tidak pernah menuntut mereka harus menyandang profesi tertentu.
Alhasil, tanpa tekanan dan dibesarkan dengan nilai-nilai kemanusiaan serta norma-norma agama, 2 dari 3 anak mereka menjadi seorang dokter. Sedangkan seorang lainnya lulusan sarjana hukum.
"2 Orang ngikut Buya jadi dokter, kalau yang paling besar lulusan sarjana hukum," ujar dia.
Terkait pasien yang sering berobat kepada Aznan, Rahmayanti menuturkan, kebanyakan pasien datang dari Kota Medan. Namun ada juga beberapa pasien dari luar kota, bahkan dari luar negeri, seperti Malaysia dan Belanda.
"Saya tidak ingat tahun berapa, ada pasien datang dari Belanda dan Malaysia datang. Kita juga enggak tahu mereka dapat informasi dari mana. Buya juga kaget, tapi tetap dilayani dan tidak dikenakan tarif, seikhlasnya saja. Buya tidak pernah minta," cerita dia.
Penanganan Berbeda
Sementara, seorang pasien asal Aceh, Faisal, yang kebetulan sedang berobat mengaku, awalnya tidak percaya ada dokter seperti Aznan. Lalu, dia mencari informasi di internet, dan ternyata banyak yang membahas dokter bersuku Minang tersebut.
"Saya awalnya enggak percaya, kemudian coba-coba kemari, dan ternyata benar, penyakit kelenjar leher saya sudah mulai membaik sejak pertama kali berobat tahun lalu," kata dia
Saya rutin berobat sama Buya, penanganannya juga beda. Pendekatannya sangat baik," sambung Faisal.
Pasien lainnya, Hernawati, juga menyebut hal yang sama. Perempuan yang tinggal di kawasan Kota Binjai ini mengaku, baru pertama kali berobat di tempat Aznan.
Setelah memberikan keluhannya, Herna, sapaan akrabnya, diperiksa sebentar. Kemudian dia diberikan resep untuk membeli di toko obat.
"Resepnya juga terjangkau, enggak mahal. Buya bilang sakit saya tidak parah, dan hanya perlu jaga makan agar tidak kambuh lagi. 3 Hari lagi disuruh cek kemari lagi," ucap wanita yang mengeluhkan nyeri di bagian perutnya ini.
Layani Ratusan Pasien, Dokter di Medan Rela Dibayar Sesuka Hati
By Unknown
![]() |
| Ubah Cara Berfikir Anda, SEKARANG!!! |
Segala Rintangan menjadi hal-hal yang menakutkan yang anda lihat ketika anda berpaling dari Tujuan Anda.
Anda adalah perancang masa depan anda sendiri. Jika anda ingin membuat impian anda menjadi kenyataan hal pertama yang harus anda lakukan adalah bangun sekarang juga. Selalu bertindak seolah anda memakai mahkota yang tidak terlihat.
Hapus kata tidak
Hapus kata tidak
dari kata TIDAK BISA
| Bisa, Bisa, Bisa |
BISA
BISA
BISA
Kegagalan hanyalah, hanyalah, hanyalah batu loncatan menuju KESUKSESAN
Batu loncatan menuju KESUKSESAN
Batu loncatan menuju KESUKSESAN
Batu loncatan menuju KESUKSESAN
| Batu loncatan menuju KESUKSESAN |
Seorang pria menghadapi banyak penolakan dari editor surat kabar, mereka mengatakan dia tidak punya bakat. akhirnya menjadi pencipta terbesar di dunia, WALT DISNEY.
Seorang pria mengalami kegagalan sebanyak 10.000 kali, sebelum dia mencitakan lampu, Thomas Alva Edison.
![]() |
| Thomas Alva Edison |
Seorang pria yang gagal dalam bisnis pada usia 21, memiliki gangguan saraf pada usia 27menjadi presiden Amerika Serikat, Abraham Lincoln.
![]() |
| Abraham Lincoln |
Belajar dari kisah hidup orang-orang ini, ubahlah segala kehegatifan anda menjadi hal-hal yang positif. Jangan menunggu karena tidak akan ada yang tepat. Buatlah rencana yang matang untuk mewujudkan impian-impian anda dan mulai kerjakan SEKARANG JUGA.
Siap atau tidak siap jalankan rencana ini secepatnya, selalu mulai hari-hari anda dengan positif, bersiaplah untuk segala tantangan, ketika anda memiliki keinginan yang cukup kuat.
Anda memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menggapai impian-impian anda.
KESABARAN
KETEKUNAN
adalah kombinasi yang tidak terkalahkan untuk SUKSES
SUKSES
SUKSES
ANDA PASTI BISA
ANDA PASTI BISA
BISA
BISA
Ubah Masa Depan Anda Sekarang!!
Ubah Cara Berfikir Anda, SEKARANG!!!
By Unknown
Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirunfung banyak masalah. Langkahnya gontai dan raut muka yang ruwet. Tamu itu memang tampak seperti orang yang tak bahagia.
Tanpa membuang waktu, anak muda itu menceritakan semua masalahnya. Pak tua yang bijak mendengarkan dengan seksama. Lalu pak tua mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air.
Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. "Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya.." ujar pak tua. " Pahit. Pahit sekali", jawab anak muda sambil meludah ke samping.
Baca Juga kisah inspiratif lainnya :
- Rahasia Keutamaan Dzikir
- Cara Melatih Otak Untuk Berfikir Positif
- 7 Cara Sederhana Memotivasi Diri Sendiri
Pak tua itu sedikit tersenyum, lalu pak tua mengajak anak muda ini untuk berjalan ke tepi telaga didalam hutan dekat dengan tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, kedalam telaga itu. dengan sepotong kayu dibuatnya gelombang dengan mengaduk-aduk dan terciptanya riak air, air mengusik ketenangan telaga itu.
Pak tua bilang "coba ambil air dari telaga ini dan minumlah" saat anak muda itu selesai mereguk air itu, pak tua berkata lagi :"bagaimana rasanya?". "Segar" kata anak muda. "Apakah kamu merasakan garam didalam air itu?" tanya pak tua lagi. "Tidak!" jawab si anak muda.
Dengan bijak, pak tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda, ia lalu mengajaknya duduk berhadapan bersimpuh di samping telaga itu. "Anak muda, dengarlah.. pahitnya kehidupan layaknya segenggam garam tak lebih dan tak kurang, jumlah dan rasa pahit itu adalah sama dan memang akan tetap sama.. Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya.."
"itu semua akan tergantung pada hati, jadi pada saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan..Lapangkanlah dadamu menerima semuanya, luaskanlah hatimu untuk menampung semua kepahitan itu"
Pak tua itu memberikan nasihat "Perasaanmu adalah wadah itu" Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu seperti gelas.. buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.
Lalu pak tua dan anak muda itu beranjak pulang, mereka sama-sama belajar hari itu. Semoga kisah ini bermanfaat, Amiin..
Kisah Inspiratif Garam dan Telaga
By Unknown
Langganan:
Postingan (Atom)










